Apakah Anda tahu bahwa motor axial-flux telah membawa perubahan besar dalam industri otomotif? Teknologi ini kini diadopsi oleh merek-merek supercar ternama seperti McLaren, Ferrari, dan Lamborghini. Pionir dari inovasi ini adalah YASA, yang saat ini menjadi bagian dari Mercedes-Benz. YASA berencana memproduksi 25.000 unit tahun depan, sebuah lonjakan besar dari hanya 1.000 unit lima tahun lalu, semuanya beroperasi dari pabrik baru mereka di Yanton.
Motor axial-flux memiliki desain yang inovatif dengan rotor di kedua sisi stator, yang menghilangkan kebutuhan akan yoke stator. Desain ini menawarkan beberapa keunggulan, seperti:
- Lebih ringan: Bobotnya 25 kg lebih ringan dibanding motor biasa.
- Lebih kecil: Ukurannya 45% lebih kompak.
- Daya lebih tinggi: Kepadatan dayanya hingga empat kali lipat dibanding motor radial-flux.
Desain yang fleksibel ini memungkinkan motor ditempatkan di berbagai posisi dalam kendaraan, misalnya antara transmisi dan mesin atau pada sumbu belakang.
Saat Ferrari merancang model SF90, mereka membutuhkan teknologi yang tidak menambah tinggi crank. Motor axial-flux YASA mampu memenuhi kebutuhan tersebut dengan diameternya yang kecil. Tidak seperti motor radial-flux, motor ini memungkinkan adanya perbedaan mekanis antara mobil hybrid dan elektrik.
Tim Woolmer, pendiri YASA, menekankan pentingnya inovasi yang berkelanjutan. Selama 15 tahun terakhir, YASA terus meningkatkan produk mereka sebesar 25% setiap tahun dan mengembangkan teknik manufaktur baru. Mereka berkomitmen untuk tidak pernah merasa puas dan terus menantang teknologi mereka sendiri agar tetap menjadi pelopor dalam industri.
Adopsi teknologi motor axial-flux oleh YASA benar-benar merevolusi efisiensi dan fleksibilitas desain dalam industri otomotif. Inovasi ini memberikan peluang besar bagi supercar untuk meningkatkan performa sambil mengurangi bobot dan jejak ruang. Dengan dedikasi pada inovasi, YASA siap menghadapi masa depan industri yang dinamis dan menuntut.